002
Persepsi yang salah tentang jalan makrifat kapada Allah. baik pada masa lalu maupun pada masa kini, adalah salah satu unsur terbesar yang menjauhkan banyak manusia dari jalan keimanan yang sahih kepada Allah. padahal kesalahan persepsi semacam amat jelas. Secara elementer rasio mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh material ini, bukan materi yang menciptakan dirinya sendiri karena materi tidak dapat menciptakan materi.
Jika puncak capaian indra dalam dunia materi ini adalah materi yang terindra saja tuntulah indra mereka tidak akan dapat mencapai makrifat. Tanpaknya semua bahasa dan golongan atau seseorang dari kalangan tidak percaya dengan adanya Tuhan, pasti mengalami kerancuhan tentang persepsi indrawi dalam mencapai makrifat Ilahiah.
Pada masa kini kita mendengar beberapa orangn yang mengatakan bahwa karena Tuhan tidak dapat dilihat, Tuhan tidak ada. Mereka pun akhirnya memilih ateisme. Lebih ekstrem kita dapati beberapa negara yang meneriakkan hal itu, seperti yang dilakukan oleh radio Uni Soviet selepas mereka berhasil meletakan satelit pertamanya ke ruang angkasa.
Salah satu jawaban fitrah yang menarik tentang masalah ini adalah anekdot berikut ini. Di sebuah sekolah dasar seorang guru berkata kepana muridnya:
Apakah kalian melihat buku? mereka menjawab Ya.
Dengan begitu berarti bukku itu ada, kata sang guru.
Apakah kalian melihat ballpoint? tanyanya lebih lanjut, dan sang murud pun menjawab Ya.
Jika demikian ballpoint itu ada, kata sang guru.
Apakah kalian melihat penghapus ini? tanya lebih lanjut, kemudian jawab murid Ya.
Berarti penghapus itu dada, kata sang guru.
Apakah kalian melihat Tuhan? tanya lagi, jawaban dari sang murid Tidak.
Itu berarti Tuhan tidak ada, kata sang guru.
Selanjutnya seorang murid yang cerdas berdiri dan bertanya:
Apakah kalian melihat akal guru kita? mereka menjawab, tidak.
Dengan demikian, akal guru kita tidak ada!
Persepsi yang salah ini telah menjadi pegangan banyak orang yang tidak menerima adanya Tuhan, semenjak zaman lampau. Ia juga adalah salah satu hasil penyakit jiwa atau hati, bukan hasil dari pemikiran yang sehat, lurus dan jujur dalam memandang sesuatu.
Dengan demikan jalan orang-orang yang tidak menerima keberadaan Tuhan, itu tidak akan mengantarkan kita kepada tujuan dalam masalah mengenal Tuhan. Penentuan jalan dan mengetahuinya dengan adanya pokok terpenting agar kita mencapai tujuan.
Adapun jalan menuju makrifat adalah dengan memperhatikan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Inilah satu-satunya jalan untuk mencapai makrifat. Ada pun rasio, pikiran beserta ilmu pengetahuan adalah syarat-syarat pokoki yang dibutuhkan oleh orang yang ingin menempuh jalan ini.
Tanpa rasio kita tidak akan mengenal tanda-tanda itu. Tanpa pikiran kita tidak akan mengenal siapa yang memiliki tanda-tanda itu. Dan tanpa ilmu pengetahuan tidak akan dapat dihasilkan pengetahuan.
Perkataan ini barangkali tampak aneh bagi orang-orang ateis karena mereka biasanya selalu menamakan diri mereka sendiri sebagai sekularis, rasiuonalis, liberalis dan pemikir, namun klaim tanpa disertai bukti tidak mempunyai nilai ilmiah sama sekali.
Beberapa wawasan yang tidak dapat diterima tentang metode duplikasi kepada Allah. Selama rentang waktu yang luas, mungkin merupakan komponen terbaik yang membuat banyak orang jauh dari cara yang sah untuk percaya kepada Allah. sementara kesalahan persepsi seperti itu sangat jelas. Aturan normal mengatakan bahwa Tuhan menciptakan materi ini, tidak membuat perbedaan yang membuat dirinya sendiri karena masalah tidak bisa membuat materi.
Jika puncak pemenuhan indera di dunia material ini hanyalah materi yang dapat dibedakan yang membimbing indra mereka, mereka tidak akan mencapai kelahiran. Tampaknya semua dialek dan pertemuan atau seseorang dari antara individu yang tidak memiliki iman di hadapan Tuhan, harus menghadapi kekacauan tentang ketajaman yang nyata dalam mencapai informasi surgawi.
Hari ini kita mendengar beberapa orang berkata bahwa karena Tuhan tidak dapat dilihat, Tuhan tidak ada. Mereka akhirnya memilih agnostisisme. Lebih luar biasa lagi kita menemukan beberapa negara berteriak bahwa, seperti yang dilakukan radio Asosiasi Soviet setelah mereka berhasil menempatkan satelit pertama mereka ke luar angkasa.
Salah satu tanggapan yang menggelitik fitrah tentang masalah ini adalah akun terlampir. Di sekolah dasar, seorang guru sekolah dasar berkata kepada siswa kelas 6:
Apakah kamu melihat saya? mereka menyapa Y
Itu berarti saya ada, kata sang pendidik.
Apakah Anda melihat papan tulis? dia bertanya lebih lanjut, dan murud itu ditujukan kepada Y.
Kalau begitu papan tulis ada, kata pendidik.
Apakah Anda melihat tabel ini? Ditanya lebih lanjut, kemudian ditujukan kepada mahasiswa Y.
Artinya meja itu peti, kata pendidik.