003
Selama hidupku banyak kejadian yang membuatku membenci diriku sendiri. Dibesarkanoleh banyak tangan perempuan sejak kecil membuat kepribadianku cenderung terbiasa dan lebih nyaman berteman dengan perempuan.
Aku ingat betul saat masih kecil, ketika sedang bermain masak-masakan dengan anak perempuan dari kakak sepupuku, aku dihampiri oleh salah satu sanak saudara dan ia menegurku,"Bermainlah dengan sesama laki-laki".
Serta ungkapan-ungkapan lain yang menempatkan bahwa sebagai lelaki tidak wajar jika aku terlalu banyak berkawan dengan perempuan.
Lelaki harus berteman dengan lelaki juga, menikmati waktu dan permainan-permainan lelaki saja. Hal itu membuatku tumbuh dengan banyak pertanyaan tentang kelayakan diri dan entah mengapa?
Sebenarnya aku kurang gemar juga menghabiskan waktu dengan teman-teman lelaki, tidak senang bergerombol, tidak menyukai perbincangan yang mereka punya, tidak suka dengan kebiasaan, kebanyakan dari mereka yang melakukan perundungan, aku juga tidak berani melawan saat kalau sedang dirundung, dan yang paling parah aku mudah tersinggung jika sedang bergaul dengan teman lelaki.
Apakah pernah kau mempertanyakan dirimu sendiri? Seperti,
Seberapa pantas dirimu?
Seberapa baik dirimu?
Seberapa salah dirimu?
Apa yang kau lakukan sudah benar?
Apa ada yang salah dengan dirimu?
Ada waktu-waktu di mana aku mempertanyakan kenapa aku dianugerahi hal-hal yang membuatku merasa malu, seolah lemah dan tak berdaya?
Hal-hal yang membuatku merasa sakit hati atas ejekan-ejekan teman-temanku dan malu terhadap diriku karena aku medah tersinggung dan sakit hati, aku membenci diriku sendiri.
Aku perlu terus berpura-pura tidak tersinggung saat sekitarku saling balas ejek. Menjadi yang tak pernah melawan membuatku sering menjadi bahan olokan. Kepercayaan diriku jadi sulit tumbuh, aku tak pernah merasa memiliki nilai-nilai atau kelebihan sebagai lelaki.
Kebencian pada diri sendiri itu jelas timbul dari konstruksi sosial akan bagaimana sepatutnya seseorang bisa disebut sebagai lelaki. Menjadi lelaki katanya benar yang memenuhi standar-stantar konstruksi sosial di tempatku dulu, seringkali berarti dengan memiliki kekuatan dalam bentuk gerombolan, keberanian bertindak, seperti menjadi murid yang bisa melawan guru, kemampuan menggeretak teman, saling ejek, merundung atau menyudutkan dan menjadikan seseorang sebagai bahan candaan atau yang paling dasar adalah tidak terlalu sering bermain bersama teman-teman perempuan.
Tempatku tumbuh membentuk ketidaknyamananku atas diri sendiri, yang membuatku beranggapan tidak mampu untuk berlaku selayaknya lelaki sesuai kontruksi sosial yang ada saat itu. Keseharianku yang diisi dengan bermain dan bercanda bersama kebanyakan teman perempuan membuatku dianggap sebagai anomali.
Hal lain yang ternyata melekat pada diriku adalah hati yang kelewat lembut. Aku sering mengibaratkannya bagaikan bantalan kasur, karena mendapat tekanan sedikit saja dari luar aku akan langsung melesak, menciut kedalam, Sungguh.
Separuh hidupku jadi banyak diisi oleh rasa-rasa marah yang ditekan dan tertumpuk karena aku berusaha menyembunyikan itu. Kembali pada konstruksi sosial tadi, aku bagaikan dipaksa untuyk menyembunyikan hal-hal yang kata orang-orang tidak layak dimiliki, dilakukan atau dirasakan oleh lelaki.
Pada tahun 2014 akhirnya aku mendapatkan serangan panik pertamaku. Sungguh, itu menyeramkan, kejadian itu membuat caraku melihat dunia langsung berubah.
Singkat cerita yang aku benci bukan lagi hanya diriku, melainkan orang-orang di sekitarku. Aaku marah pada banyak orang yang membuatku merasa tidak nyaman untuk menjadi diri sendiri. Seperti aku menyalahkan mereka atas apa yang membuatku terus-terusan merasa buruk, sulit berkembang, ya padahal kan hidupku adalah tanggung jawabku. Aduh!
Setiap hari di kepalaku ada pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari rasa benci yang terus membesar.
Kenapa orang-orang itu saling mengatai?
Kenapa mereka bisa berkomentar seburuk itu?
Kenapa mereka jahat sekali saat membicarakan seseorang?
Kenaps teman-temanku suka membuat orang lain tidak nyaman?
Kenapa mereka harus bertengkar di kolom komentar sih?
Kenapa?
Kenapa?
Kenapa?
Tentu saja di perbincangan-perbincangan yang terjadi di kedai kopi akan terus ada yang setuju denganku dan ikut membenci orang-orang yang aku keluhkan. Tetapi tentu banyak pula yang mungkin malah berkata "Ah, kau saja yang terlalu memikirkan itu". Meskipun dorongan untuk bisa menerima hal-hal yang ada pada diriku justru perlahan-lahan bertranformasi menjadi kebencian, hidup harus terus berlanjut.
Ada saat-saat di mana aku menikmati semuanya dengan lambat, seperti saat melamun. Pada saat-saat seperti inilah aku bisa melihat bahwa ada banyak sekali orang-orang yang marah.
Melihat orang-oranng marah ini membuatku seolah bercermin dan melihat diri sendiri beberapa tahun yang lalu. Orang-orang yang terjebak dalam kekeliruan besar, kebingungan massal dan terjebak dalam pusaran ketidaktahuan akan harus berbuat apa.
Dari hal inilah ketertarikanku dalam mempelajari emosi manusia tumbuh. Ketertarikan ini membuatku belajar mengurai banyak penyebab-penyebab dari reaksi manusia dalam merespon segala hal. Rasa benci terhadap diriku selama ini, ternyata salah satunya disebabkan karena ketidakmampuanku untuk mengolah hal tersebut menjadi hal yang bisa lebih berguna dan dinikmati atau dicermati dengan lebih teliti.
Kekeliruan dalam amarah dan benci, membuat kita sering tidak sadar bahwa itu adalah pupuk yang justru dapat membantu menumbuhkan kasih sayang dan mimpi bagi banyak manusia.
Jika kalian sudah mampu mengolahnya, hal-hal yang menimbulkan rasa benci akan berubah bagaikan sungai deras yang menghalir kesamudra. Perlahan-lahan permasalahan akan terurai dan kalian akan kembali tenang.