007
Kau tau emosi dan pikiran pukul 1 pagi di kamar mu, ketika arus keduanya sedang kencang dan kadang menyesatkan hingga kau terseret pada kesedihan yang mendalam, kemarahan yang buas, atau tiba-tiba kau menemukan semangat untuk memulai hal baru di hidup mu dan jalan keluar untuk keresahan mu, namun semua dorongan itu sering hilang saat kau terbangun di pagi hari?
Saking berisiknya kepala mu saat malam, kau kewalahan untuk keluar dari keresahan-keresahan itu termasuk melarikan diri sendiri dari isi kepala mu sendiri.
Beberapa emosi dan pikiran itu kadang datang tiba-tiba secara acak, seperti rasa lelah karena semua perjuangan yang entah kapan akan selesai yang membuat mu ingin menangis tiba-tiba tanpa kau benar-benar tau sebabnya. Kau hanya lelah dan ingin menangis.
Rasa bersalah yang terus terulang di kepala karena mempertanyakan apa aku sudah mengatakan yang sebenarnya pada teman ku, pada kekasih ku, pada keluarga ku?
Rasa tidak pernah cukup yang terus-terusan menghantui mu, karena kau terus-terusan mempertahankan apa yang kau lakukan sudah cukup baik bagi orang lain?
Cukup menyenangkan bagi orang-orang di sekitar?
Rasa kurang yang mengakibatkan mu merasa tak pernah bisa puas atas apa yang sudah kau usahakan. Semua kelelahan itu bertumpuk dan membuat mu merasa kesepian. Kesepian itu malah membuat mu ingin mengurung diri dikamar untuk mengasihani diri. Kau malah semakin buruk saat melihat teman-teman mu sedang bersenang-senang tanpa mu.
Saat memutuskan untuk berhenti mengurung diri, kau melakukan apa pun untuk pergi dari kesepian dan kebosanan, pergi berhaha hihi dengan teman-teman dan sepulangnya kerumah kembali berhuhu-huhu dikamar.
Tiba-tiba terbesit rasa syukur yang membuat mu ingin sekali menangis karena kau baru saja terbukti salah menganggap tidak ada yang peduli pada mu. Ternyata ada banyak yang peduli, mereka melakukan banyak hal sekedar untuk membantu mu melewati masa-masa sulit meskipun mereka tidak menyampaikannya secara langsung. Rasa syukur karena Tuhan dengan magisnya membawa mu pada pertemuan-pertemuan dengan orang-orang baru yang membuat mu merasa memiliki keluarga baru.
Emosi yang bercampur itu kadang membut mu sesak karena pikiran jahil membawa ingatan luapan kemarahan mu pada seseorang yang amatr kau cintai, hingga kau pulang membawa rasa puas sekaligus penyesalan.
Perasaan terasingkan diantara teman-teman sendiri karena merasa perbincangan mereka sudah bukan merupakan hal yang dapat kau nikmati. Kau ingin pergi tetapi juga tak ingin dikira arogan dan berakhir sendirian.
Perasaan-perasaan ini seringnya berasal dari hal-hal yang sering kali kita represi bergumul didalam dada sehingga kita terperangkap dalam kepala kita sendiri dan terisolasi dalam asumsi. Hingga hadir perasaan ingin menyerah pada hidup, meskipun sesungguhnya kita tidak bisa benar-benar menyerah. Akan selalu ada yang menghadang kita dari keputusan menyerah. Entah orang-orang terdekat, orang asing, kejadian yang ajaib atau bahkan keyakinan kecil yang ada disekelibat pikiran kita.
Ada kalanya perasaan-perasaan kesepian yang menghampiri tidak dibarengi dengan keinginan untuk ditemani. Kau berakhir disebuah kedai kopi atau teh tertentu, duduk berlama-lama disana hanya untuk mencuri tatapan dari pelayan yang menarik perhatian mu. Kau hanya ingin berada disana membayangkan semuanya menjadi berbeda.
Perlu waktu yang tidak sebentar bagi ku untuk berhenti berpura-pura disekeliling diri ku sendiri. Perlu keberanian untuk melangkah mundur melihat dari luar kedalam diri. Keberanian untuk melihat sesuatu bukan hanya dari perasaan terluka, perasaan merugi, perasaan memalukan, maupun berbagai ketakutan dan keresahan saja. Tapi juga dari kenyataan yang selama ini dihilangkan dipaksa sembunyi.
Dalam prosesnya menjadi manusia merupakan sebuah pekerjaan seumur hidup. Manusia sebagai spesies yang dinamis terus berkutat dalam proses bertumbuh meskipun pertanyaan kedalam diri kerap keluar jalur atau berada pada satu garis lurus yang lama-lama membosankan. Kemampuan kita untuk merasa tadi justru sesuatu yang dapat membawa kita untuk merasa tadi justru sesuatu yang dapat membawa kita kepada tafsir berlapis berujung perjalanan tak berkesudahanan.
Pada proses tumbuh yang tak berkesudahan itulah, bagi ku ruang diri menjadi kedap kepercayaan sekaligus memunculkan sumber-sumber rahasia untuk menggerakan pintu-pintu kesempatan dan pertumbuhan lainnya.
Mari Bepergian
Hal-hal dangkal ternyata bisa membawa mu jauh lebih dalam, dapat kita selami dan jelajahi.
Pernah mendengar itu sebelumnya? Aku baru saja memikirkan hal itu saat menulis ini. Apa kalian pernah mengalami saat di mana ucapan atau bunyi dari mulut seseorang bisa membawa kita ke tempat yang sangat jauh? Bahkan kupikir selalu demikian.
Lalu apa yang sedang coba aku sampaikan? Bahwa setiap detik jiwa dan pikiran kita bersinergi untuk terus bepergian dan selalu tentang pencarian, seperti bagaimana agar ujian ku dapat nilai bagus? Kita menjelajahi kemungkinan yang perlu kita lakukan atau saat kita melihat unggahan foto liburan seorang teman, kita akan membayangkan bagaimana rasanya berada di tempat liburan teman kita. Masalahnya kita tak pernah bisa benar-benar mengontrol dan memilih apa kita ingin pergi kesana atau tidak.
Padatnya lalu lintas informasi melemahkan hak kita untuk memilih dan menentukan apa yang harus dan tidak seharusnya kita pikirkan. Sehingga kita kewalahan mencari tahu mana yang penting untuk kita mana yang baik. Tapi terlepas dari itu kita sebutuh itu untuk terus bepergian melalui pikiran-pikiran yang padat di kepala kita.
Sehingga pada setiap kepergian itu kita jarang benar-benar sampai pada tujuan awal. Persis bagaimana aku pernah menempatkan para perundung sebagai orang yang sepenuhnya buruk, tanpa paham ada yang mengakibatkannya berbuat itu atau ada hal baik lain dalam diri mereka.
Seperti kita pergi ke suatu tempat hanya untuk mengambil gambar lalu kita unggah di media sosial kita agar orang-orang tahu kita pernah ke sana tanpa benar-benar tahu apa saja yang sebenarnya ada di sana.
Kita jarang benar-benar memahami sesuatu secara mendalam karena kebutuhan kita untuk mengetahui sebatas seperti pergi ke tempat wisata dan mengambil gambar untuk menunjukkannya pada orang-orang. Sama seperti bagaimana kita merenpons hampir dalam segala hal dalam hidup kita.
Misalnya ada seseorang yang begitu benci diabaikan. Ia bisa merasa sangat buruk saat ia sudah melakukan dan memberikan hal yang besar tetapi tak dianggap dan orang itu merasa sakit hati. Antara ingin dihargai dan dianggap penting, ada sesuatu di antaranya yang tak pernah dicari tahu alasannya. Sehingga ia akan sibuk untuk merasa buruk dan selalu kesal pada orang-orang yang mengabaikannya.
Dan hampir pada semua hal jika kau tak pernah benar-benar tahu akan ke mana arah tujuanmu, kau akan terus-terusan merasa buruk atas apa pun yang membuatmu marah.
Tujuannya bukan untuk menyukai atau menerima apa pun yang asalnya membuatmu marah, namun lebih pada agar semakin sedikit hal-hal yang akan membuatmu marah dan kesal. Entah atas orang lain atau pada dirimu sendiri. Jadi, jika mau bepergian, pergi sekalian yang jauh dalam kepalamu menuju banyak kemungkinan dan sudut pandang.