008
Tuhan tidak menerima keimanan seseorang bila ia mesih belum meyakini apa yang ada pada setiap makhluk dan ciptaan-Nya sebagai tanda kekuasaan dan keberadaan Tuhan. Maka anjurkan supaya seseorang dapat menjadikan perasaannya peka terhadap permasalahan ini. Terlebih lagi kepada semua manusia yang belum mencapai tingkat kesadaran yang tinggi supaya lebih sadar, lebih banyak berpikir dan banyak menginat Tuhan.
Kekuasaan Tuhan terlihat jelas pada ciptaan-Nya, terlihat jelas pada seluruh kreasi-Nya dan hikmah Tuhan dapat terlihat tanpa tersembunyi. Hati yang tidak dapat melihat tanda-tanda Tuhan yang terdapat pada setiap sesuatu, benar-benar merupakan hati yang telah buta.
Tuhan telah memperingatkan kita untuk mempelajari yang terdapat pada alam semesta ini. Alam itu sendiri sungguh menarik pandangan, orang-orang yang tidak percaya Tuhan dan orang yang beriman sama-sama mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, tidak ada perbedaan bagi keduanya dalam mencari ilmu pengetahuan.
Perbedaan mendasar terletak pada penggunaan akal dan hukum-hukumnya dalam mencapai sesuatu yang ada di balik alam semesta ini, juga terdapat pada stagnasi terhadap penglihatan indrawi tanpa menggunakan akal dan percaya begitu saja.
Walaupun banyak ayat Al-Qur'an yang menyebutkan bahwa di alam semesta terdapat tanda-tanda bagi orang yang mengetahui bagi orang yang berpikir, terdapat juga sebutan bahwa di alam semesta terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yang menunjukan bahwa menggunakan hukum-hukum akal merupakan salah satu syarat untuk mengetahui ayat-ayat Allah.
Dengan demikan setiap fenomena kosmos bukan menjadi pengetahuan kita saja. Orang yang beriman dan orang-orang tidak beriman sama-sama mengetahui pengetahuan ini. Hanya saja perbedaannya adalah: kita menjelaskan semua yang terjadi itu berdasarkan kepastian hukum akal dan logikanya, sedangkan mereka menolak penafsiran ini tanpa bukti apa pun.
Seperti dua orang arsitek di hadapan gedung yang sangat megah dan indah, keduanya sama-sama tahu setiap sudut yang terletak di gedung itu dengan pengetahuan dari bagimana cara merancangnya sampai bagaimana cara membangunnya. Hanya saja salah seorang dari mereka berdua memastikan bahwa bagunan ini dulunya terwujud tanpa seorang ahli yang mempunyai pengetahuan dan daya kreasi, dengan hikmah kearifan yang tinggi dan keahlian lain untuk mewujudkan bagunan ini. Adapun yang lain berpendapat secara rasional dan sudah menjadi aksioma bahwa bangunn ini tentu tercipta dengan adanya seorang yang ahli dan berkemampuan tinggi.
Permasalahan yang cukup sederhana adalah sebagai berikut: Ketika orang pertama mendiskusikan secara rasional pendapatnya, dia berkata "Aku akan membuktikan pada suatu nanti bagaimana bangunan ini berdiri dengan sendirinya," sementara itu akal manusia secara lugas menunjukkan bahwa semakin lama waktu akan memberikan dengan lebih terperinci tentang perkara bangunan yang menunjukkan pada kita siapa penciptanya dengan lebih jelas dan lebih tepat. Selamanya hukum aksioma tidak akan pernah terbandah.
Setiap kali rahasia alam terungkap, setiap kali itulah ia akan menunjukkan pada keberadaan Tuhan. Fenomena yang sedang kita pelajari saat ini fenomena hikmah, merupakan saksi yang baik sekali terhadap apa yang telah kita sebutkan tadi. Manusia biasa akan melihat bahwa pada alam ini terdapat hikmah kearifan, sehingga dapat mengenal Tuhan Yang Maha Bijaksana. Setiap kali seseorang bertambah ilmu bertambah pula pengetahuannya tantang hikmah ini, karena itu ilmu adalah pembuka rahasia bagi hikmah.
Sebenarnya musibah yang dirasakan oleh orang-orang beriman di zaman sekarang ini adalah seruan orang-orang yang tidak beriman pada ilmu pengetahuan ketika mereka dalam kesesatannya dan mengatakan bahwa orang-orang mukmin tidak mengetaahui apa-apa. Mereka lalu memunculkan tuduhan-tuduhan bahwa kebanyakan orang mukmin pada zaman sekarang ini hanya mengetahui sedikit tentang ilmu dunia. Sudah saatnya orang-orang mukmin mengetahui lebih banyak tentang fenomena hidup di dunia, mulai memastikan langkah bahwa dengan ilmu pengetahuan yang banyak akan lebih memperdalam iman.
Mereka berkata tentang hikmah, bahwa hikmah adalah meletakan sesuatu pada tempatnya, hubungannya dengan alam, hikmah itu adalah sesuatu yang telah sesuai pada tempatnya sehingga tidak ada yang lebih baik dari tempatnya sekarang ini. Itulah realitas alam, setiap sesuatu yang ada didalamnya mempunyai hikmah tertentu, baik secara terbagi-bagi maupun berkumpul / bergerombol. Manusia akan mendapatkan kebenaran yang secara jelas akan berkata dengan bahasanya, "Kondisi saya seperti ini adalah seusai dengan hikmah yang paling tepat".
Berikut ini beberapa contoh tentang hikmah tadi.
- Kalau saja tidak ada kematian apa yang akan terjadi? Kalau saja sepasangt lalat melarikan anak-anaknya tanpa ada kematian, dalam lima tahun lalat itu akan membentuk lapisan yang mengelilingi bumi setinggi 5 cm. Ini baru spesies saja dari makhluk hidup yang ada di muka bumi ini. Bagai manakah kiranya jika seluruh makhluk hidup itu melahirkan tanpa adanya kematian? Dari sinilah kita paham akan hikmah sakit, hikmah adanya sebab-sebab sakit yang berupa bakteri, virus dan selainnya. Ada seseorang yang berkata, "Bukankah baik sekali jika manusia meninggal tanpa harus sakit?" Atau kalau saja mati itu dengan satu penyakit, maka ketika ia sakit di situlah akhir hayatnya?" Sungguh telah hilang dari mereka hikmah adanya rasa sakit, nyeri, hikmah adanya peringatan, hikmah penglihatan dan hikmah pelajaran dari realitas hidup ini.
- Sesuatu yang keluar kotoran dari tubuh manusia dapat memenuhi dunia kalau saja tidak ada bakteri dan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam merubah dan menghancurkan "buangan" manusia ini. Dari sini kita dapat memahami wujud sesuatu yang awalnya dianggap oleh manusia tidak perlu. Terkadang wujud sesuatu itu akan berguna bagi sesuatu yang lain. Itulah hikmah.
- Bukankah lebih indah jika makhluk hidup itu semua indah, sehingga tidak ada makhluk yang menakutkan bagi kehidupan ini? Sebenarnya fenomena ini merupakan suatu hikmah yang tinggi. Adanya ketakutan itu merupakan suatu hikmah. Dengan adanya rasa takut, manusia menjadi tau akan peringatan, lebih lanjut ia dapat mengembangkan kemampuannya untuk menghindari apa yang ditakutinya. Cukuplah menjadi hikmah bagi manusia dengan melihat makhluk-makhluk yang mengagumkan diciptakan Allah dengan kekuasaan-Nya.
- Sebagian manusia bertanya hingga kejelekan pun ada hikmahnya? Demikan pulakah rasa sakit? Bukankah keadilan lebih baik dari pada kezaliman dan kelembutan lebih baik dari pada kekerasan? Iman lebih baik dari pada tidak beriman? menjalankan kewajiban lebih baik dari pada melalaikannya? Karena itu, apakah hikmah dari adanya kekurangan-kekurangan ini, sedangkan tanpanya bisa lebih baik lagi?
- Sampai mereka bertanya, mengapa Tuhan menciptakan kejahatan? Hingga mereka berkata bahwa adanya kejahatan di muka bumi merupakan bukti bahwa tidak ada Tuhan, karena Tuhan seharusnya baik dan sesuatu yang berasal dari-Nya haruslah baik. Begini! Kita menyukai pengetahuan dan hikmahnya terhadap setiap sesuatu. Kita juga akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sampai tau atau mencoba untuk mengetahui. Bukan berarti pengetahuan yang sedikit tentang hikmah itu menjadi kita berkesimpulan bahwa hikmah itu tidak ada. Jika ada pertanyaan kepada Tuhan, "Mengapa Engkau lakukan ya Tuhan?"Pertanyaan ini sepatutnya tidak ditanyakan. Seorang yang berpewngetahuan tidak akan mengajukan pertanyaan ini, kecuali jika memang orang itu bodoh atau tidak mengetahui Tuhan. Orang yang mengetahui jika ia melakukan sesuatu berdasarkan ilmu, tidak akan ditanya oleh orang yang bodoh.