sidawarna01

 Yang dimaksud dengan makrifat ialah tempat fondasi berdirinya Islam dengan secara keseluruhan. Tanpa adanya makrifat ini, seluruh perbuatan amal ibadah suatu agama atau untuk Islam akan menjadi tidak memiliki sebuah nilai yang hakiki, karenakan didalam kondisi seperti ini, orang tersebut akan kehilangan rohnya"

Apa nilai suatu amal yang tidak akan memiliki jiwa?

Bagaimana cara kita mengenal Tuhan?

Jalan apa yang seharusnya kita tempuh untuk menuju jalan makrifat?

Pertanyaan seperti itu harus dijawab, karena kalau kita tidak mengetahui menuju jalannya, kita tidak pernah sampai ketujuan yang kita inginkan.

Pandangan orang yang tidak menerima adanya Tuhan

Banyak orang baik semenjak jaman dulu hingga di masa kini" yang mengingkari adanya Tuhan, dengan beralasan bahwa mereka tidak bisa merasakan keberadaan Tuhan, dengan penglihatan mereka.

Mereka berpendapat bahwa menuju untuk mengetahui semua sesuatu adalah dengan penglihatan. Karena alasan itu mereka menuduh terhadap orang yang menerima keberadaan Tuhan, sebagai tukang khayal, tersesat, pembuat klenik, tidak ilmiah, sakit jiwa, dan tuduhan lainnya yang diucapkan oleh orang tidak menerima adanya Tuhan terhadap kaum yang beriman. Dengan beralasan, orang-orang beriman itu menerima adanya Tuhan bukan dengan cara indrawi.

Mereka berpendapat bahwa mereka bisa beriman dengan apa yang dapat tertangkap oleh panca indra mereka, terbantah sendirinya oleh realitas material ditempat mereka hidup.

Contohnya mereka mengimani dengan adanya kekuatan gaya gravitasi bumi disertai dengan hukumnya" meskipun mereka tidak dapat melihat keberadaannya dengan indrawi mereka.

Mereka mengimani dengan keberadaan rasio meskipun sebenarnya mereka tidak melihat penampakkannya, seolah-olah hanya melihat hasil saja.

Mereka mengimani keberadaan medan magnet sebagai hasil melihat dengan adanya daya magnet yang tarik menarik diantara satu besi beserta besi lainnya tanpa adanya melihat faktor apa yang menariknya.

Begitu juga mereka mengimani dengan adanya elektron & neutron meskipun mereka tanpa pernah melihat elektron & neutron.

Semuanya ini menunjukan bahwa pada diri mereka sendiri mengimani banyak hal dengan tidak dapat dicapai indra mereka. Imanan mereka yang tanpa adanya keraguan itu di hasilkan seolah-olah setelah mereka melihat dan pengaruhnya atau kekuatan yang di pertunjukkan oleh semua hal yang di imani keberadaannya itu.

Hal tersebut menuntukkan dengan sangat jelas bahwa banyaknya hal yang di imani keberadaannya oleh mereka iyalah semata-mata ditunjukkan sama pengaruh-pengaruhnya" bukan karena mereka melihat zatnya dengan indawi mereka.

Rasiolah bukan indrawi yang memperkenalkan semuanya itu kepada mereka. Indrawi iyalah alat yang memberikan semua perangkat-perangkat penilaian terhadap rasio sehingga dapat menetapkan penilaiannya, akan tetapi tanpa keberadaan rasio tentunya penelitian tersebut tidak dapat di hasilkan dan tentu saja tak dapat di hasilkan suatu pengetahuan dengan labih lanjut, pada paktanya indrawi sering kali memberikan penggambaran yang keliru terhadap kita dan dengan pikiran saja kita baru mengetahui terhadap fakta yang sebenarnya.

Contohnya sebatang tongkat yang ditenggelamkan kedalam air akan terlihat bengkok.

Garis yang di letakkan dalam keadaan sejajar terlihat dari jarak jauh terlihat tidak sejajar.

Angka yang warnanya putih akan terlihat lebih besar dari angka-angka berwarna lainnya.

Kita merasa bahwa diri kita sedang berjalan dalam keadaan kepala di atas, walaupun kita berada di bagian kutub utara atau di kutub selatan bahkan digaris katulistiwa.

Semua kenyataan tersebut menjelaskan kepada kita semua dengan jelas bahwa jika tanpa adanya rasio niscaya mata kita akan diberikan gambaran yang salah bukanlah kebeneran, dan tanpa adanya rasio kita tidak dapat memiliki pengetahuan.

Apakah mereka yakin ketika mereka membatasi seluruh pengetahuan hanya dengan melalui jalan indrawi saja?

Apakah mereka sudah bersikap logis terhadap diri mereka sendiri disaat mereka menolak keimanan terhadap Tuhan, dengan alasan yang mereka tidak dapat untuk mencapainya dengan mata mereka. Ini terjadi walau pun mereka mempercayai dibanyak hal tersebut yang tak dapat mereka jamah dengan indrawi mereka dan hanya melihat pengaruhnya saja. Semuanya itu adalah fakta paling yang diketahui manusia.

Sebelum di temukannya alat yang dapat detect keberadaannya beberapa wujud yang visible, apakah wujud tersebut belum ada?

Apakah pengingkaran mereka melawan wujud tersebut sebelum ditemukan alat detector bersifat ilmiah?

Selain itu, apakah semuanya merupakan realitas logis yang ditemukan oleh fakultas atau instrumen?

Bukankah fakta matematis banyak fakta nominal hanya dapat dituju oleh rasio, pemikiran dan asosiasi tujuan dengan tempat?

Selanjutnya bukankah setiap permasalah memerlukan alat khusus yang sesuai ?

Bukankah perangkat rasio sudah mencukupi bagi mereka sampai kepada Tuhan?

Seandainya mereka memiliki hati niscaya akan ajak mereka diskusi dengan hati dan kami akan terangkan bagaimana sebenarnya orang-orang yang memiliki hati nurani yang dapat mencapai keyakinan terhadap Tuhan dengan hati mereka, dengan derajat keasliannya, tepatnya iluminasi dzauqiyah yang tidak dapat dipertentangkan dan kekuatannya dengan peneguhan apapun. Namun, hati mereka sudah mati jadi kami memilih untuk tidak menyambut mereka untuk berbicara dengan jiwa mereka, karena mereka tidak akan mendapatkannya. (Apa yang kami maksud dengan hati adalah apa pun kecuali hati material, yang mereka tahu bagaimanapun itu adalah hati lain yang terfokus di hati).

Persepsi yang salah tentang jalan makrifat kepada Allah. baik pada masa lalu maupun pada masa kini, adalah salah satu unsur terbesar yang menjauhkan banyak manusia dari jalan keimanan yang sahih kepada Allah. padahal kesalahan persepsi semacam amat jelas. Secara elementer rasio mengatakan bahwa Tuhanlah yang menciptakan seluruh material ini, bukan materi yang menciptakan dirinya sendiri karena materi tidak dapat menciptakan materi.

Jika puncak capaian indra dalam dunia materi ini adalah materi yang terindra saja tuntulah indra mereka tidak akan dapat mencapai makrifat. Tanpaknya semua bahasa dan golongan atau seseorang dari kalangan tidak percaya dengan adanya Tuhan, pasti mengalami kerancuhan tentang persepsi indrawi dalam mencapai makrifat Ilahiah.

Pada masa kini kita mendengar beberapa orangn yang mengatakan bahwa karena Tuhan tidak dapat dilihat, Tuhan tidak ada. Mereka pun akhirnya memilih ateisme. Lebih ekstrem kita dapati beberapa negara yang meneriakkan hal itu, seperti yang dilakukan oleh radio Uni Soviet selepas mereka berhasil meletakan satelit pertamanya ke ruang angkasa.

Salah satu jawaban fitrah yang menarik tentang masalah ini adalah anekdot berikut ini. Di sebuah sekolah dasar seorang guru berkata kepana muridnya:

Apakah kalian melihat buku? mereka menjawab Ya.

Dengan begitu berarti bukku itu ada, kata sang guru.

Apakah kalian melihat ballpoint? tanyanya lebih lanjut, dan sang murud pun menjawab Ya.

Jika demikian ballpoint itu ada, kata sang guru.

Apakah kalian melihat penghapus ini? tanya lebih lanjut, kemudian jawab murid Ya.

Berarti penghapus itu ada, kata sang guru.

Apakah kamu melihat Tuhan? tanya sekali lagi, respon yang sesuai dari mahasiswa adalah tidak.

Itu berarti Tuhan tidak ada, kata pendidik.

Kemudian seorang siswa yang pintar berdiri dan bertanya:

Apakah Anda melihat pikiran pendidik kami? mereka bilang Tidak.

Karenanya, pikiran pendidik kita tidak ada!

Wawasan yang tidak mendasar ini telah dipegang oleh banyak orang yang tidak mengakui kehadiran Tuhan, sejak zaman kuno. Ini juga merupakan akibat dari penyakit psikologis atau penyakit jantung, bukan akibat dari renungan yang kokoh, terhormat dan adil dalam melihat sesuatu.

Selanjutnya metode individu yang tidak mengakui kehadiran Tuhan, tidak akan membawa kita pada tujuan dalam masalah mengenal Tuhan. Memutuskan jalan dan mengetahuinya dengan fokus utama sehingga kami mencapai tujuan kami.

Pendekatan terbaik untuk makrifat adalah dengan fokus pada indikasi kekuatan-Nya. Ini adalah cara terbaik untuk mencapai makrifat. Selain itu, otak dan informasi adalah kondisi mendasar yang dibutuhkan oleh individu yang ingin berjalan dengan cara ini.

Tanpa alasan kita tidak akan melihat tanda-tandanya. Tanpa jiwa kita tidak akan menyadari siapa yang memiliki tanda. Juga, tanpa informasi tidak akan ada informasi.

Pepatah ini mungkin tampak tidak biasa bagi orang-orang yang tidak beriman karena mereka biasanya menyebut diri mereka sekuler, rasis, progresif, dan sarjana, namun jaminan tanpa bukti sama sekali tidak memiliki nilai logis.