Kapan kali terakhir kalian membicarakan seseorang karena kelakuannya

Kapan kali terakhir kalian membicarakan seseorang karena kelakuannya yang menyebalkan alias tidak memenuhi standar-standar moral tertentu yang menurut kalian baik? Baru saja?

Kalian mencari orang lain yang mungkin memiliki standar atau pemahaman yang sama, untuk membahas orang sebelumnya.

Lalu coba ingat-ingat bagaimana perasaan kalian, apa yang meledak di dada saat itu terjadi?

Perasaannya hebat bukan? Seperti kembang api sedang meledak di sana, atau seolah kalian sedang memegang pistol untuk ditembakkan ke segala arah. Kau sangat puas! Jangan khawatir aku juga pernah melakukannya. Sayangnya entah mengapa aku selalu merasa bersalah setelah aku melakukan hat itu.

Dan perasaan itu hanya aku yang tau, bersembunyi di kamar, saat sedang menuju tidur. Lalu aku akan merasa buruk tentang diriku sendiri. Kenapa aku harus merasa baik dengan menempatkan orang lain terlihat buruk. Tapi tidak ada yang tau, tidak ada yang boleh tau karena itu memalukan.

Rasanya ada yang salah dikatakan hatiku saat aku membicarakan orang yang tidak aku sukai. Aku sangat ingin orang menyebalkan itu sangat salah dan tidak lebih baik dari aku, aku ingin ia terluka.

Aku akan terus mengulang ingatan tentang kesalahannya, keburukannya, perilaku-prilaku menyebalkannya, dan semua hal-hal buruk tentangnya yang ada di kepalaku. Hal itu mungkin begitu hebat dan memuaskan namun buruk sekali secara bersamaan.

Betapa puas memang bagaimana orang bisa merasa hebat atas orang lain, tetap[i saat kita punya kekurangan justru kita sembunyikan. Kenapa?

Tentu karena ketakutan, kita beranggapan orang akan melakukan hal yang sama pada kita di belakang atau bahkan di depan kita.

Lalu ketika kalian sudah membicarakan temanmu, keesokannya kau bertemu dengannya dan berpelukan atau berjabat tangan dan berkata halo apakabarmu? Aku merindukanmu?

Sadarkah, kau menganggap dirimu sedang menusuknya dengan pisau di tanganmu di punggungnya.

Dan setiap kali kau melakukan itu kau sadar, bahwa kau beranggapan dia juga sedang menusukmu. Kebiasaan membicarakan orang dan kebiasaan mendengar temanmu membicarakan orang dengan sering tanpa sadar telah membuatmu tak bisa memercayai siapa pun.

Seberapa sering kalian merasa harus berpura-pura baik di depan orang lain hanya untuk menjaga pertemanan dan demi bisa memiliki foto kedekatan kalian untuk dibagikan di media sosial?

Lalu suatu saat kau bisa sangat mengeluh bahwa teman-temanmu palsu setelah akhirnya kau tau mereka juga membicarakan kekuranganmu!

Seperti kau melihat video pengakuan seseorang yang bersedih di lini masa media sosial dan kau merutuk,"Ah, dasar palsu!"

Lalu seketika kau sadar, video yang kau lihat adalah dirimu yang sedang menangis, lalu sadar kau sedang mengatai dirimu sendiri.

Semua yang kau lihat tentang orang lain akhirnya terasa seperti tentang dirimu sendiri.Kau tau betul bagaimana menjadi palsu, kau tau betul bagaimana menyembunyikan keburukan atau melakukan penyangkalan.

Lalu di malam yang sunyi kau mengeluhkan kenapa sesulit itu menjadi diri sendiri atau kau juga akan berkata kau tidak ingin menjadi orang lain hanya agar disukai teman-temanmu.

Masalahnya, bagaimana kau bisa menjadi dirimu sendiri jika ternyata kau selama ini sama tenggelamnya dalam kepalsuan?

Berdirilah di depan cermin dan tanyakan dirimu.

Jika selama ini kau banyak membicarakan kekurangan orang lain, bukankah itu sama dengan tidak membiarkan seseorang menjadi dirinya sendiri. Dan bayangkan semua orang melakukan hal yang sama.

Tapi hanya karena orang saling membicarakan keburukan satu sama lain tidak berarti mereka tidak saling menyayangi.

Menegur dalam hubungan pertemanan terasa sangat sulit, bukan hanya perkara kita takut menyakiti perasaan teman kita, kita juga takut teguran kita tidak diterima dan dianggap menghinanya, karena kau tau mendapat teguran memang tidak menyenangkan.

Namun, apakah dapat membantunya?

Atau kita hanya membantu diri kita sendiri untuk melampiaskan kekesalan kita dan merasa baik dengan menutupi bahwa kita juga melakukan banyak kesalahan.

Dalam proses menjadi diri sendiri, bagaimana jika kita juga mempersilakan orang lain untuk menjadi dirinya?